Tuesday, August 11, 2009

Profesionalisme Guru Dalam Peningkatan Mutu Pendidikan

Pendidikan di Indonesia saat ini belum menunjukkan peningkatan mutu terhadap pola pikir masyarakat. Akibat dari sering bergantinya kebijakan-kebijakan dalam mengatur pola pembelajaran di sekolah, mulai dari KBK, KTSP, dll. sehingga dapat dikatakan bahwa tujuan pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945, yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa belum terealisasikan.
Pendidikan mempunyai arti membebaskan atau memerdekakan manusia dari belenggu kebodohan, kesempitan dan kepicikan dalam membangun kemampuan seseorang. Adapun konsep pendidikan dalam islam adalah totalitas, mengkaji semua ayat-ayat Allah baik yang tertulis, yang wujud (faktual), maupun yang berupa sandi-sandi dengan menggerakkan semua instrument manusia untuk memahaminya. Dengan adanya pendidikan, manusia memiliki daya dan upaya untuk melangsungkan hidupnya secara terorganisir sehingga dapat menjadi bangsa yang cerdas.
Untuk mewujudkan bangsa yang cerdas tentu membutuhkan mediator dalam pembentukanya, seperti adanya tenaga pengajar (guru). Seorang guru haruslah profesional dalam bidangnya, jika tidak maka akan sulit untuk menjadikan bangsa yang cerdas dan produktif. Karena pendidikan adalah vital dari segalanya maka perlu adanya peningkatan dari segala aspek yang mendukungya. Tulisan ini akan memaparkan tentang pengaruh profesionalisme guru terhadap kemajuan pendidikan.

Peran Guru Terhadap Perkembangan Anak Didik
Sekolah merupakan tempat berlangsungnya proses belajar mengajar. Yang mana terdapat guru sebagai pengajar atau pendidik dan siswa sebagai objek yang memerlukan pendidikan untuk berkembang lebih maju. Pengertian yang terkandung dalam istilah "guru" dalam situasi yang tidak resmi adalah orang yang dalam dirinya memiliki atau dapat mewujudkan pengetahuan tertentu, baik keterampilan atau keyakinan. Seorang guru baik pria maupun wanita dipandang sebagai manusia yang memikul tanggung jawab profesi penuh atas pendidikan anak-anak dan kaum remaja yang sedang menuntut ilmu dibangku sekolah. Guru memang memiliki peran penting dalam proses belajar mengajar, sebab tanpa adanya guru murid akan enggan untuk belajar di lingkungan sekolah.
Proses belajar mengajar memiliki tujuan ideal yaitu agar bahan yang dipelajari dapat dikuasai sepenuhnya oleh murid. Hal seperti ini disebut dengan "mastery learning" atau belajar tuntas, artinya penguasaan penuh. Tujuan tersebut dapat dicapai apabila guru mampu meninggalkan kurva normal sebagai patokan keberhasilan mengajar, sebagaimana tugas guru yaitu menciptakan suasana dan fasilitas yang sebaik-baiknya agar proses belajar dapat dilaksanakan dengan baik. Seorang guru hendaknya dapat memahami setiap perilaku siswa karena itu akan lebih memudakan dalam proses mengajar, tetapi saat ini kebanyakan guru hanya memperhatikan materi pembelajaran yang cocok untuk diberikan kepada siswa bukan memikirkan bagaimana metode penyampaian yang tepat kepada siswa.
Sebagaimana yang telah dikatakan oleh Dr. Ahmad Tafsir dalam bukunya 'Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam' yaitu, jika ingin menguasai pemikiran manusia, kuasailah sekolah. Sebab karena inilah yang menjadi bahaya apabila orang islam menyekolahkan anaknya ke sekolahan katolik, begitu juga dengan sebaliknya. Dari sinilah guru harus benar-benar memahami peranannya sebagai seorang pendidik bukan sekedar sebagai pengajar, dengan adanya pendidikan di sekolah akan dapat mempermudah dalam proses mencerdaskan anak bangsa, oleh karena itu untuk menjadi seorang guru haruslah cakap dan berkepribadian baik. Mengutip dari Ahmadu Bello University di Nigeria yang menerapkan cara pendekatan supaya dapat mengatasi masalah-masalah yang akan dihadapinya. Pada tahun 1972 telah diperkenalkan pendidikan yang terdiri dari tiga bagian, tahap pertama, meliputi persiapan profesi selama sepuluh minggu untuk mengikuti kuliah diperguruan tinggi. Tahap kedua, satu tahun penuh mengajar di sekolah dan selama itu para mahasiswa selalu mendapat pengawasan tapi mempunyai status dan kondisi sebagai guru biasa. Dan tahap ketiga, kursus sepuluh mingu di Universitas untuk memperoleh ijaza selama lima belas bulan setelah pendaftaran pertama.
Guru yang berkompeten adala guru yang mahir dalam bidangnya masing-masing. Untuk saat ini, yang dibutuhkan bukanlah guru-guru yang memiliki sertifikat banyak atau seorang sarjana, tetapi alangkah baiknya jika seorang guru itu paham akan profesinya sebagai guru dan benar-benar tahu apa yang harus ia lakukan sebagai guru dalam mendidik siswa yang sedang berkembang, yang mana diperlikan tenaga ahli yang dapat mengerti dan memahami tingkah laku siswa tersebut. Orang tua disebut juga sebagai guru, bahkan orang tua itulah yang harus lebih profesional dalam mendidik, orang tua harus dapat menanamkan jiwa yang baik falam diri anak sejak pertama ia lahir hingga remaja. Seperti yang diungkapkan oleh Bijau, "Banyak ahli psikologi anak yang mengatakan bahwa tahun-tahun prasekolah, sekitar dua sampai lima tahun adalah salah satu tahapan yang penting", ini menandakan, sebelum seorang anak dibawa ke bangku sekolah orang tua harus lebih dulu mendidiknya guna menjadikan anak tersebut berpendidikan yang lebih baik.

Profesionalisme Guru
Untuk meningkatkan mutu sekolah memerlukan sekurang-kurangnya dua syarat yang tidak boleh tidak dipenuhi, pertama, penguasaan teori pendidikan modern, yaitu teori yang islami dan sesuai dengan perkembangan zaman. Kedua, ketersediaan dana yang cukup. Sebagai seorang guru yang haruslah menguasai teori pendidikan dalam mendidik anak. Tapi bukan hanya menguasainya saja melainkan juga dapat mengaplikasikan ke berbagai bentuk. Salah satu bentuk teori islami adalah profesionalisme seorang guru. Dalam islam pekerjaan harus dilakukan secara professional, dalam arti harus dilakukan secara benar, (Dr. Ahmad Tafsir.113).
Secara umum profesi diartikan sebagai suatu pekerjaan yang memerlukan pendidikan lanjutan dalam science dan teknologi yang digunakan sebagai perangkat dasar untuk diimplementasikan dalam berbagai bentuk kegiatan yang bermanfaat, dalam aplikasinya menyangkut aspek-aspek yang lebih bersifat mental daripada yang bersifat manual work. Sedangkan profesionalisme adalah paham yang mengajarkan bahwa setiap pekerjaan harus dilakukan oleh orang yang profesional. Orang yang profesional adalah orang yang memilliki profesi. Profesi itu sendiri ialah merupakan panggilan hidup dan keahlian seperti yang dikatakan oleh Waterink. Guru yang profesional adalah guru yang sadar akan menjadi pendidik dan memiliki dasar utama yaitu, "Rouping" atau panggilan hati nurani.
Suatu bidang disebut profesi apabila memiliki cirri-ciri yakni "dedikasi" dan "keahlian". Menurut Mukhtar Luthfi dari Universitas Riau (lihat mimbar,3,1984:44), seorang disebut memiliki profesi bila ia memenuhi kriteria sebagai berikut: 1) profesi harus mengandung keahlian, 2) profesi dipilih karena panggilan hidup dan dijalani sepenuh waktu, 3) profesi untuk masyarakat bukan untuk diri sendiri, 4) profesi memiliki teori-teori yang baku secara universal, 5) profesi harus mempunyai klien yang jelas, yaitu orang yang membutuhkan layanan. Dari kriteria-kriteria diatas jelaslah bahwa profesionalisme seorang guru tidak dapat dianggap remeh dalam proses peningkatan mutu pendidikan.

KESIMPULAN
Majunya suatu Negara dikarenakan majunya pendidikan yang ada didalamnya. Apabila pendidikan dalam suatu Negara tidak menunjukkan peningkatan maka Negara tersebut belum tentu dapat maju dari segala seginya. Untuk itu perlu adanya guru yang dapat mendidik masyarakat. Orang tua adalah sosok guru yang paling berpengaruh dalam perkembangan jiwa dan pikiran anak, oleh karena itu meraka dituntut untuk lebih ahli sehingga dapat menimbulkan proses pendidikan yang bermutu.
Untuk itu, memilih guru yang profesional lebih penting dari pada guru yang memiliki gelar tapi tidak sanggup menerapkan profesionalitasnya. Untuk meningkatkan mutu pendidikan memerlukan penguasaan teori pendidikan yang modern serta sesuai dengan perkembangan yang terjadi. Penguasaan teori menjadi sangat penting karena adanya metode-metode pembelajaran yang tidak membosankan, dengan begitu anak didik akan menikmati proses belajarnya, tentu tidak lepas dari penerapan profesionalisme seorang guru. Banyaknya sekolahan yang tidak berkembang mutunya adalah ketidak efektifannya dalam penerapan profesi guru. Jadi untuk meningkatkan mutu sekolah yang terpenting adalah penerapan profesionalisme di sekolah tersebut.

REFERENSI
A, M, Sudirman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2000, Cet.VII.
Djohar, H, Ms, Prof, Dr, Pendidikan Strategic, Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta, 2003.
Goble, Norman, M, Perubahan Peranan Guru, Jakarta: PT. Gunung Agung, 1983.
Hurlock, Elizabeth, B, Psikologi Perkembangan, Jakarta: Erlangga, 1991, Edisi V.
Nasution, Prof, Dr, MA, Belajar dan Mengajar, Jakarta: Bumi Aksara, 1995.
Noman. M, Goble, Perubahan Peranan Guru, Jakarta: PT. Gunung Agung, 1983.
Tafsir, Ahmad, Dr, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2007, Cet. VII.
Tilaar, H. A. R., M, Sc, Ed, Prof, Dr, Paradigma Baru Pendidikan Nasional, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2000, Cet. I.

Read more...

Mengungkap Dimensi Tujuan Pendidikan Islam

Tujuan umum pendidikan adalah tujuan yang akan dicapai dengan semua kegiatan pendidikan, baik dengan pengajaran atau dengan cara yang lainnya. Tujuan umum ini meliputi seluruh aspek kemanusiaan seperti, sikap, tingkah laku, penampilan, kebiasaan, dan pandangan. Tujuan umum ini berbeda pada tingkat umur, kecerdasan, situasi dan kondisi dengan angka yang sama. Sikap insan kamil harus ada dalam setiap pribadi anak didik setelah pendidikan itu dilaksanakan, meskipun dengan mutu dan tingkatan yang berbeda, sesuai dengan tingkatan-tingkatannya.
Tujuan pendidikan Islam menurut beberapa tokoh Islam
Menurut Syed M. Naquib Al-Attas dalam bukunya yang berjudul filsafat pendidikan Islam adalah untuk menanamkan kebaikan ataupun keadilan dalam diri manusia sebagai seorang manusia yang individu, bukan hanya sebagai warga Negara maupun anggota masyarakat. Yang perlu ditekankan (dalam pendidikan)adalah nilai manusia sebagai manusia sejati, sebagai warga kota, sebagai warga negara dalam kerajaannya yang mikro, sebagai sesuatu yang bersifat spiritual, (dengan demikian yang ditekankan itu) bukanlah nilai manusia sebagai entitas fisik yang diukur dalam konteks pragmatis dan utilitarian berdasarkan kegunaan bagi Negara, masyarakat, dan dunia.
Selanjutnya, Drs Ahmad D. Marimba mengemukakan dua macam tujuan, yaitu:
1.tujuan sementara
Adalah tujuan sasaran sementara yang harus dicapai oleh umat Islam yang melaksanakan pendidikan Islam. Tujuan sementara disini yaitu tercapainya berbagai kemampuan seperti kecakapan jasmaniah, pengetahuan membaca, menulis, pengetahuan ilmu-ilmu kemasyarakatan, kesusilaan, keagamaan dan sebagainya.
2. tujuan akhir
Adapun tujuan akhir pendidikan Islam yaitu terwujudnya kepribadian muslim. Yaitu kepribadian yang seluruh aspek-aspeknya merealisasikan atau mencerminkan ajaran Islam.
Yang dimaksud dengan kepribadian muslim ialah kepribadian yang seluruh aspek-aspeknya, baik tingkah laku luarnya.
Drs. Muhammad zen mengatakan di dalam bukunya Materi Filsafat Pendidikan Islam: Kepribadian muslim ini akhirnya tidak akan terlepas dari tiga spek yaitu: Iman, Islam dan Ihsan.
Kadang-kadang kepribadian muslim juga disebut dengan istilah takwa yang diartikan sebagai mengerjakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Dalam menjalani segala suruhan itu, banyak sekali hal-hal yang termasuk di dalamnya. Karena itu, kepribadian muslim tepat pula dikatakan menjalankan isi-isi dari kedua sumber pokok dalam Islam, yaitu Al-Quran dan Hadits, sebagai pegangan yang kuat dan tidak akan tersesat apabila dipegang kepada keduanya.
Artinya;
تَركْتُ فيكُمْ أَمْرَيْنِ لنْ تَضِلُّوا ما تَمسَّكْتُمْ بهما : كتابَ الله ، وسنّة رسولِهِ
"Aku tinggalkan kepadamu dua perkara, jika kamu berpegang teguh padanya maka kamu tidak akan sesat sesudahku, yaitu kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya." (HR. Hakim).
Menurut Imam Ghazali, tujuan pendidikan yaitu pembentukan insan paripurna, baik didunia maupun di akhirat.
Prof. Dr. M. Athiyah Al Abrasy mengemukakan tentang tujuan pendidikan dalam satu hal yaitu fadilah/keutamaan.
Dr. Omar al Taumy menyatakan sebagai berikut: "tentang tujuan-tujuan individual yang ingin di capai oleh pendidikan Islam, maka pada keseluruhannya berkisar pada pembinaan pribadi muslim yang terpadu pada perkembangan dari segi spiritual, jasmani, emosi, intelektual dan sosial.
Dari pendapat-pendapat diatas kita dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa tujuan umum pendidikan Islam adalah terbentuknya kepribadian muslim yang meliputi aspek spiritual, jasmani, emosi, intelektual dan social.
Pencapaian tujuan itu bagaimanapun tidak dapat di realisasikan secara simultan, tapi melalui beberapa jenjang dan tahap. Walaupun demikian, setiap tahap dan jenjang saling terkait satu sama lainnya karena mempunyai dasar pendidikan Islam yang sama yaitu membentuk pribadi yang Islami. Sehubungan dengan itu tujuan pendidikan Islam dapat dilihat dari berbagai dimensi.
Dimensi hakikat penciptaan manusia
Berdasarkan dimensi ini, tujuan pendidikan diarahkan kepada pencapaian target yang berkaitan dengan hakikat penciptaan manusia oleh Allah swt. Seperti tertera dalam Al Qur`an:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ الذاريات: 56
"Dan tidaklah aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembahku"
Jadi dimensi ini diarahkan untuk membentuk pribadi yang taat dan mengabdi pada Allah. Maka indikator keberhasilan pendidikan dilihat dari dimensi ini, ketaatan peserta didik terhadap tuntutan Allah kepada makhlukNya.

Dimensi tauhid
Kepatuhan terhadap Allah swt dalam dimensi ini tauhid ini dinyatakan sebagai kepatuhan yang mutlak, dengan menempatkan Allah swt sebagai zat tunggal. Hanya Ia yang layak disembah dan satu-satunya tempat meminta pertolongan. Prinsip tersebut menjadi kerangka acuan dalam bertindak dan bertingkah laku, baik secara batin maupun lahir.

Dimensi moral
Sejak dilahirkan manusia sudah memiliki sejumlah potensi bawaan yang bersifat fitrah. Menurut M. Quraish Shihab, potensi ini mengacu kepada 3 kecenderungan utama, yaitu benar, baik dan indah. Manusia menurut fitrahnya selalu cenderung kepada hal yang benar, baik, yang indah (M. Quraish Shihab, 1996). Sehubungan dengan dimensi ini, pendidikan dititikberatkan kepada upaya pengenalan nilai-nilai yang baik dan berusaha menginternalisasikannya kedalam diri peserta didik untuk kemudian di wujudkan dalam sikap dan perilakunya mealui pembiasaan.

Dimensi perbedaan individu
Secara umum manusia memiliki beberapa kesamaan dengan sesamanya. Namun dibalik itu manusia juga berbeda satu sama lainnya. Bahkan perbedaan tetap ditemukan dalam bayi yang kembar. Berdasarkan kenyataan ini, manusia secara fitrah memiliki perbedaan dengan individu yang lainnya.
Maka dimensi individu ini menitik beratkan kepada pengembangan potensi fitrah manusia dalam statusnya sebagai insan. Maka pendidikan dalam konteks ini, menitikberatkan untuk membentuk insan kamil, sesuai dengan kadar masing-masing individu.

Dimensi sosial
Manusia adalah makhluk sosial, yaitu makhluk yang mempunyai dorongan untuk hidup secara berkelompok secara bersama-sama. Oleh karena itu dimensi sosial menitik beratkan upaya mencetak peserta didik yang sadar akan kewajibannya, hak dan tanggungjawab sosial, serta sikap toleran, agar keharmonisan hubungan antar sesama manusia dapat berjalan dengan harmonis.
Rasulullah saw memberikan kriteria manusia sosial yang baik, yaitu bermanfaat bagi orang lain
خير الناس أنفعهم للناس
Sebaik-baik manusia, adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain". (Hr. Baihaqi dan Tabrani)
Dimensi profesional
Dan dalam dimensi ini, pendidikan ditujukan untuk mengembangkan bakat individu yang akan dijadikan bekal esok untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang disertai 2 pokok nilai, yaitu keimanan dan aktifitas yang bermanfaat.

Dimensi ruang dan waktu
Secara substansial ruang dan waktu kehidupan yang diinformasikan oleh wahyu meliputi fase (alam), kehidupan manusia, yaitu; 1)kehidupan alam roh 2) kehidupan alam rahim 3) kehidupan alam dunia 4) kehidupan alam kubur 5) kehidupan barzah dan 6) kehidupan alam akhirat. Keenam alam ini mempunyai karakteristik berbeda. Namun semuanya merupakan rangkaian yang berkesinambungan. Berangkat dari acuan ini, maka pendidikan Islam merupakan usaha untuk membimbing dan mengembangkan potensi peserta didik agar selamat dunia dan akhirat.

Penutup
Dapat ditarik kesimpulan bahwa pada hakikatnya tujuan pendidikan Islam adalah mencerdaskan akal dan membentuk jiwa yang Islami, sehingga akan terwujud sosok pribadi muslim sejati yang berbekal pengetahuan dalam segala aspek kehidupan. Contohnya adalah Rasulullah SAW telah memberikan suri tauladan yang nyata mengenai pendidikan. Beliau telah mendidik kaum Muslimin ketika di Makkah maupun di Madinah. Tujuan beliau adalah membentuk pribadi muslim seutuhnya, yang tercermin dalam tata cara berfikir maupun berkehendak. Beliau juga mengajarkan nilai-nilai hidup yang mulia, mencari keridoan Ilahi, sifat ‘izzah atau kesadaran akan harga diri(‘izzatul mu’min), siap mempertanggungjawabkan kewajiban menyampaikan dakwah kepada seluruh umat manusia secara efesien.semoga kita semua bisa mencontoh sosok beliau dalam menerapkan pendidikan yang telah ada, amien.

Read more...

  ©Template by Dicas Blogger.